Rabu, 24 Februari 2016

Buku dalam Kehidupan Saya

Aku dan Buku

Jauhkan (diri) kita dari buku, maka kita segera akan tenggelam dan jadi bingung,” begitu ungkap salah satu penulis ternama asal Rusia, Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky dalam salah satu karyanya. Sebegitu berartikah buku, sehingga, pada dasarnya tidak boleh lepas dari diri kita masing-masing? Kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka dalam hal ini, saya sangat sependapat dengan pernyataan Dostoyevsky tersebut.
            Berbicara soal buku memang tidak akan lepas dari kebiasaan membaca. Seseorang yang memang asalnya gandrung membaca, maka yang bersangkutan pasti akan menganggap penting sebuah buku. Dalam hal ini, kita bicara soal “buku dan aku”, bukan “aku dan buku jualanku”, karena orang punya banyak buku pun belum tentu ia seorang pembaca yang baik, dan menghargai betul arti sebuah buku. Adapun bagi saya pribadi, buku itu memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan saya. Belum lama memang kalau harus bicara asal mula kedekatan saya dengan yang namanya buku.
            Semua bermula sejak tahun 2009 sampai sekarang. Saya menjadikan buku sesuatu kebutuhan yang tidak bisa tidak harus selalu dipenuhi. Hal itu bukan karena mau keren-kerenan punya banyak buku, tetapi memang buku-buku tersebut menurut saya layak untuk dibaca—beginilah nasib yang lahir belakangan, sebagaimana uangkapan, begitu banyak buku, begitu sedikit waktu—maka saya berusaha menyisihkan uang untuk keperluan membeli buku. Dan itu cukup membikin heran keluarga saya di rumah. Namun begitu, lambat laun mereka pun memahami dan kadang-kadang turut serta membaca koleksi buku saya.
            Syahdan, saya lebih menyukai buku-buku agama, kemudian filsafat, sampai  pada akhirnya ke buku-buku sastra, dan kini menyadari bahwa semua bahan bacaan sangatlah berarti. Mengapa tidak? Saya yang secara latar belakang memang tidak “wah”, sangatlah merasa beruntung disebabkan Tuhan memberikan kepada saya anugerah gemar membaca, dan masih punya kesempatan membeli buku. Ini sungguh suatu nikmat yang patut saya syukuri selalu.
            Apa faedahnya bagi saya? Buku apapun, menurut saya tidak berbeda, secara umumnya, dengan kitab suci. Dari kegiatan membaca buku, galibnya akan mendapatkan informasi—lepas dari baik atau buruk—yang selebihnya dapat kita pilah serta pilih melalui proses berpikir. Dan di sinilah sulitnya, hanya sedikit yang membaca sambil berpikir, sebagaimana sedikitnya yang nonton film di bioskop sambil berpikir. Padahal melalui proses membaca buku apapun, akan banyak hal yang didapat, mulai dari “penghiburan duka maupun suka”, “penamparan”, dan bahkan “pembunuhan” bagi jiwa sang pembaca, dan itu mengasyikkan bagi saya. Maka itu, kini saya tidak membatasi jenis ataupun tema buku, meskipun begitu, terus terang, saya tetap selektif dalam membeli buku, karena bagaimana pun sebagaimana kita mengonsumsi makanan tentu kita akan pilih, selain yang enak juga yang bergizi! Begitupun dengan bahan bacaan.
            Sebagai manusia yang mudah bingung dan tenggelam dalam banyak hal, buku menjadi salah satu alternatif penerang dan penunjuk ke arah yang lebih bisa menjadikan kita siap secara mental untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan banyak pertimbangan, tidak hanya sebatas ego belaka atau “handbook” saja. Itu tentu saja menjadi satu pengalaman yang tak terlupakan. Dan hal lainnya yang membuat saya menaruh perhatian besar terhadap yang namanya buku, karena saya pun menulis sebuah buku. Sudah sepantasnya penulis lebih menghargai buku daripada “pembaca yang sekadar konsumen” dari adanya “produk” bernama: BUKU.
            SEMOGA saja saya bisa terus memanfaatkan anugerah yang telah Tuhan berikan, dan semoga masyarakat kita menjadi masyarakat pembaca, sehingga ke depan mampu menuliskan peradaban yang gemilang. Dan tentu saja, doa bersama semoga buku cetak tidak lenyap, dan harganya bisa semakin bersahabat. Semoga saja. 

2 komentar:

  1. Terima kasih bnyak utk sharingnya
    stuju kalo buku emang penerang jiwa yg haus akan ilmu hhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, terim kasih sudah berkenan membaca ya :)

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire