Minggu, 28 Februari 2016

Ahmad Heryawan dan Tuhan dalam Masjid 1 Triliun Rupiah

BUMI merupakan masjid, kecuali kuburan dan tempat buang air. Begitulah yang pernah diwasiatkan oleh Muhammad Rasulullah kepada para sahabatnya. Lain dulu lain sekarang, kita menganggap bahwa masjid merupakan suatu bangunan yang khusus, dan berlomba-lombalah orang-orang membangun masjid dengan iming-iming rumah di surga yang megah. 


Tidak ada salahnya dengan membangun masjid jika sesuai dengan aturan tata tertib dan tata ruang pembangunan yang sudah diatur melalui perundang-undangan. Akan tetapi, dalam hal pemerintah, membangun suatu rumah ibadah agama tertentu haruslah mempertimbangkan banyak hal, tidak hanya karena mayoritas penduduk di suatu wilayahnya itu menganut Islam, maka disediakan dana APBD sekian rupiah. Harus penuh pertimbangan, dan menurut saya, apa yang direncanakan oleh Pemprov Jawa Barat sungguh keterlaluan!

Sekalipun Ahmad Heryawan selaku gubernur mengatakan bahwa di sekeliling masjid akan berdiri hotel syariah, restoran, pusat pembinaan umat, serta museum ke-Islam-an. Jelas sekali biaya yang sampai 1 triliun rupiah dari APBD sangat mubazir, apalagi akan ada rencana membangun sampai 20 masjid! Dan kalau dipikir-pikir, hotel itu apapun embel-embelnya sama saja, pasti untuk tidur, istirahat, ataupun bercinta. Pun restoran, di mana-mana pun pasti untuk makan, dan soal museum, apakah museum yang sudah ada di seluruh Jawa Barat peminatnya terus meningkat? Ini bukan soal anti kemajuan, apalagi rencana rancangan masjidnya akan penuh nuansa Jawa Barat, tetapi sepertinya ada hal lain yang lebih penting, misalnya saja memastikan bahwa masjid yang sudah ada makmur dipenuhi jamaah baik dari subuh sampai isya. Terus terang saja, uang satu triliun itu sangat banyak. Mengapa tidak diupayakan pada sektor PENDIDIKAN yang lebih bisa dinikmati oleh segenap masyarakat tanpa memandang SARA?

Perlu diingat oleh Ahmad Heryawan, Islam merupakan agama yang mengedepankan pengajaran dan wacana intelektual. Artinya lebih baik membangun madrasah ataupun sekolah daripada masjid, yang kini cenderung sebagai tempat piknik belaka, hampa kegiatan ibadah, apalagi atmosfer akademis, sekelipun ada pengajian, dari dahulu ya begitu-begitu saja, hanya soal agama yang seolah-olah terpisah dengan pengetahuan lainnya.

Saya sebagai muslim sangat heran dengan proyek semacam ini. Masjid Berbiaya 1 Triliun!? Dan dengan entengnya bilang dananya ada dari APBD. Apakah Ahmad Heryawan yakin Tuhan berkenan "ada" dalam masjid 1 triliun? Memang Tuhan "ada" dalam setiap masjid. Tetapi ingatlah, berkali-kali Tuhan katakan dalam banyak keterangan bahwa dirinya ada di samping orang-orang yang kesusahan, tertindas, dan semisalnya. Bukan di suatu tempat, apalagi di masjid yang sampai 1 triliun rupiah. Apakah bisa menjamin bahwa masjid yang sampai 1 hektar untuk tempat salatnya itu penuh terus jamaahnya? Iman dan keimanan itu bukan soal membangun masjid ataupun jumlah masjid! Bahkan, sekalipun rezam kemudian melarang pembangunan masjid sama sekali, saksikanlah bahwa saya akan tetap salat, sebab seluruh hamparan bumi ini merupakan masjid-Nya. Dan janganlah masjid menjadi salah satu indikator agar suatu objek wisata meningkat pengunjungnya. Itu sih sudah watak kapitalis sekali.

Ahmad Heryawan, Anda itu Gubernur, bukan Ketua DKM!

[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire