Rabu, 08 Juli 2015

Saat Dia Meninggal

SIAPAKAH dia yang dimaksud? Mungkin hal itu menjadi pertanyaan, apalagi “dia” dalam bahasa kita dikenal pula sebagai kata ganti. Adakah yang dimaksud adalah Tuhan? Bisa jadi, tetapi kali ini kita tidak akan membahas soal ateisme. Walaupun hal itu adalah sesuatu yang mungkin muncul di peradaban manapun. Lantas? 

Kita mencoba menggali hikmah dari kisah masa lalu seseorang. Dan kali ini dia adalah seorang ksatria. Murid salah satu filsuf ternama, Aristoteles. Menurut “legenda” dia dikenal sebagai Iskandar Agung. Apa yang menarik dari jawara penaklukkan ini selain dari masa kejayaan dan kegemilangannya menundukkan setiap wilayah yang didatanginya? Tidak ada yang lain setelah kehidupan seseorang, selain kematiannya. Maka, kita pun dapat mengambil pelajaran dari akhir hidup seseorang. 

Dikisahkan oleh Siddiqui bahwa menjelang akhir kehidupannya Iskandar Agung meminta para jendralnya untuk melaksanakan tiga wasiat yang ia sampaikan. Dan semua bawahannya pun mengiyakan titah padukanya. Adapun permintaannya, pertama Iskandar Agung memerintahkan bahwa yang membawa peti matinya kelak adalah para dokter, yang kedua Iskandar Agung menyuruh pengawalnya agar menaburkan emas, perak, permata, dan segala logam mulia lainnya di sepanjang jalan menuju pemakamannya. Dan yang terakhir, Iskandar Agung meminta agar tangannya dibiarkan menjuntai ke luar peti matinya. 

Semua yang hadir untuk menyimak wasiatnya kaget dan tidak mengerti, sehingga ada yang bertanya apa tujuannya melakukan itu. Katanya, “Aku ingin mengatakan kepada kalian semua bahwa para dokter tidak bisa memberikan kehidupan. Aku ingin mengatakan bahwa harta benda yang didapatkan sepanjang kehidupan tidak akan dapat dibawa saat kita mati, dan mengapa aku membiarkan tanganku menjuntai? Aku ingin mengatakan pada dunia bahwa sebagaimana aku lahir maka saat aku mati pun aku tidak membawa apa-apa. Sehingga orang tahu bahwa sang penakluk dunia saat meninggalnya tidak membawa apa-apa kecuali dirinya sendiri. 

Sangat menakjubkan. Tidak hanya itu, IskandarAgung pun melarang anak buahnya untuk membangun monumen di kuburannya. Sangat berbeda dengan kebanyakan para penakluk lainnya. Betapa, dunia memang fatamorgana yang tidak bisa kita gapai atau genggam selamanya. Bahkan setelah kematian semakin nyatalah bahwa kita tidak bisa apa-apa. Namun begitu, adakah yang masih mau mengambil pelajaran dari kisah orang-orang masa lalu? 

Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan saat di dunia ini dengan semaksimal mungkin untuk memberi yang terbaik bagi sesama. Semoga saja kita bisa istiqamah dalam kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire