Jumat, 10 Juli 2015

Mengapa Hanya Ingin Dipandang?


EKSISTENSI. Tidak ada manusia yang tidak ingin eksis. Maka segala cara mulai yang manis sampai yang pahit pun dilakoni untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Dan hal itu dapat terbukti dalam hal terpandang atau tidak. Dasarnya memang manusia ingin selalu dipandang baik oleh “yang di atas” terlebih oleh “yang di bawah”, suatu kenyataan yang memang cukup menyakitkan.

Pada masanya, Bunda Teresa pernah berkata bahwa bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa besar cinta yang kita masukkan dalam pemberian itu. Artinya memang, berbagi atau anjuran agar lebih banyak memberi daripada berusaha mendapatkan lebih banyak yang dapat diterima adalah soal seberapa ikhlas kita dalam tindakan tersebut, dan tidak sama sekali terkait eksistensi, dipandang ataupun tidak. Bahkan dalam satu riwayat, kalau bisa, jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Sekarang bagaimana? Sedikit sekali yang dapat mengambil ibrah daripada aneka peribahasa ataupun nasihat orang dulu yang memberikan pada kita suatu peninggalan yang dapat kita baca dan terapkan.

Dan sialnya, tidak hanya terjadi dalam hal bakti sosial. Terlebih dalam dunia sastra, semua berlomba-lomba ingin dipandang tidak peduli sudah berpengalaman ataupun tidak. Seolah-olah kalau ada seorang yang bergelut dalam dunia sastra menyatakan tidak ingin dipandang maka ia seorang pembohong. Dalam artian semua memang inginnya begitu. Tidak dipungkiri, saya pribadi pun kerapkali menjumpai pikiran picik seperti itu, lebih banyak lagi saya kerap berhadapan dengan mereka yang seperti itu.

Saya prihatin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire