Kamis, 09 Juli 2015

Kimia Kebahagiaan Menurut Al Ghazali


AL GHAZALI merupakan salah satu tokoh agama Islam yang populer di nusantara. Sekalipun dalam beberapa karyanya sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan beberapa kalangan. Hal itu bukan suatu yang buruk. Mengingat suatu karya tulis memang tidak selalu mutlak dan akan terus “dipertimbangkan” seusai zamannya. Beda dengan kitab suci yang senantiasa relevan.

Tapi bukan itu yang akan menjadi pokok bahasan, kali ini kita mencoba menuju jalan bahagia dengan menyimak nasihat menarik dari seseorang yang pernah ada di dunia ini. Katanya kepada kita:

“Tiap-tiap napasmu adalah permata yang tidak terniai karena tidak tergantikan dan sekali terlepas, tidak dapat dikembalikan. Jangan seperti orang-orang bodoh terperdaya yang berleha-leha karena setiap hari kekayaan mereka bertambah, padahal sisa umur mereka berkurang. Apa bagusnya harta bertambah saat umur makin sempit? Maka, merasa senanglah hanya karena bertambahnya ilmu atau amal baik karena keduanya merupakan teman terbaikmu yang akan menemanimu dalam kubur saat keluarga, harta, anak-anak, dan teman-teman tidak menyertaimu.”

Sebagaimana wasiat dari Iskandar Agung, rupanya Al Ghazali pun mengingatkan kita pada dunia yang merupakan fatamorgana yang seharusnya tidak kita kejar terus-menerus. Namun adanya kita di sini pun bukan tanpa alasan bahwa selain ladang kefanaan, bumi ini merupakan ladang ilmu dan amal, dan hanya keduanya itulah yang dapat menyelamatkan kita menuju kebahagiaan sejati di akhirat nanti. Atau setidaknya, hal itulah yang dapat membuat kita tenang dan lebih arif dan bijaksana daripada makhluk lainnya. Dan bukankah itu yang seharusnya terjadi, bukan malah menjadikan kita sebagai manusia lebih rendah daripada hewan?

Saya jadi teringat pada perkataan Shidarta Gautama, katanya, “Seorang arif bijaksana tidak akan takut kepada apapun, sekalipun kematian datang menjemput.” Mengapa tidak takut? Karena sebaik-baik bekal telah digenggam dan sebaik-baik kenyataan telah diketahui bahwa itulah jalan sebenarnya untuk keluar dari ruang fatamorgana bernama dunia ini. Tetapi jujur saja, memang sulit menjadi arif di tengah dunia yang terus mencengkram kita dengan sistem kapitalismenya.

Semoga saja kita masih punya rasa ingin untuk belajar, dan rasa semangat untuk terus istiqamah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire