Selasa, 09 Juni 2015

Waktu Sesaat yang Luar Biasa Singkat

APAKAH waktu sesaat yang luar biasa singkat? Pagikah? Siangkah? Sorekah? Atau malam? Semua itu adalah lingkaran yang terus berulang. Adapun sesaat yang berupa waktu yang luar biasa singkat adalah kita. Ya, waktu kita. Aku, kamu, dia, mereka, dan kita sekalian adalah sekumpulan “saat” yang singkat. 

Sekalipun kita takjub pada apa yang diungkapkan oleh para ilmuwan terkait usia penciptaan alam raya ini yang sampai sekian tahun lamanya, yang menggambarkan suatu proses adanya yang begitu memakan waktu yang lama, tetapi itu bukanlah waktu kita, suatu waktu yang teralami. Semua itu hanyalah suatu fase yang kita tahu, namun tak kita alami, dan itupun belum tentu sekalian manusia ketahui. 

Jadi, memang teramat terbatas adanya kita dalam waktu yang sesaat ini. Untuk itulah memang tidak berlebih kala Khrisnamurthi menyatakan bahwa masa depan adalah hari ini, pun masa lalu. Jadi, yang riil adalah memang yang tengah berlangsung berupa saat yang bernama “ini,” dan bukan “itu,” “sini” dan bukan “sana”,” di sini” dan lain yang “di sana”. 

Sekalipun begitu, tentu saja ada maksud mengapa Soekarno menyinggung soal sejarah yang jangan sampai dilupakan, sebab masa lalu adalah awal mula masa berikutnya, sedangkan waktu begitu lingkaran, labirin, yang kait-mengait, sedangkan hukum sebab akibat selalu ada. Dan kita pun kemudian sangat berambisi (atau berkontribusi?) terhadap masa depan? Ya, sekalipun sesaat, semua sepakat saling terhubung, sambung menyambung. 

Dan sebagaimana umumnya rahasia, waktu adalah yang paling sulit untuk dipahami. Sebab ia adalah kita, diri pribadi masing-masing. Sudikah mengungkap rahasia? Rasanya itu sama sulitnya dengan upaya telanjang di muka umum. Haruskah kita menjadi gila baru dapat jujur sejujur-jujurnya? 

Ah! Pelik memang, tetapi hidup yang sesaat ini begitu menarik, dan rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja, walaupun ada sebagian yang menganggap bahwa hidup ini sudah tidak ada artinya, dan memilih untuk mengakhiri dirinya. Merasa nihil? Sendiri? 

Semakin nyatalah bahwa yang paling sulit kita hadapi di waktu yang begitu sesaat ini adalah diri kita sendiri, yang mana dalam pandangan agama disebut pula dengan istilah hawa nafsu ataupun syahwat. Apakah lantas kita harus membunuh “diri yang lain” yang ada dalam “kita”? Ah, mengapa kita senang sekali membunuh? Semakin peliklah.

Tak jelas mengapa, dan semua memang tidak selalu menemu jawaban. Walaupun ada pepatah yang mengatakan bahwa jawaban kadang ada dalam pertanyaan itu sendiri. Lepas dari itu semua, adalah suatu kebahagian bagi siapa pun yang berpikir dan bertanya soal mengapa kita ada, yang artinya mengapa kita tercipta yang berarti ada yang menciptakan. 

Hatta, seperti disampaikan, bahwa kita tidak selalu menemukan jawaban yang pasti atas segala soal ataupun tanya yang coba kita utarakan. Namun begitu, kita sudah berupaya—sekalipun sulit—terus mencari, berjalan, bergerak, dan berpikir, bahwa tak ada yang “nihil”, sekalipun dalam realitas nihil itu ada. Pun saya, sampai detik ini pun masih terus mencari jawab atau menyebar tanya perihal waktu sesaat yang luar biasa singkat. Sekalipun—meminjam ungkapan Umar Khayyam dalam Rubai-nya—“kita mesti pergi selagi belum juga tahu pasti/ Buat apa lahir, hidup, berlalu.//” 

…adapun waktu yang luar biasa singkat 
yang berupa saat-saat bagi kita 
begitu penuh harapan 
menanti kita…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire