Rabu, 24 Juni 2015

Tuhan Ada Nggak Sih?

PERTANYAAN tersebut kerapkali saya temui dalam novel yang saya baca. Dan sepertinya, secara umum hampir kebanyakan dari kita pun terkadang mengemukakan pertanyaan yang sama. Dan ini, tentu saja bukan suatu pertanyaan yang menyiratkan bahwa penanya tersebut seorang ateis. Tidak dapat dipungkiri kadang banyak situasi atau kondisi yang pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan tersebut. Dan itulah suatu ujung dari kelemahan kita bahwa keadilan-Nya itu kadang sulit untuk dimengerti, tetapi selalu ada alasan dan akibat dari segala aksi penciptaan oleh-Nya.

Dan kita yang mendengar pertanyaan semacam itu, semestinya tidak lantas menghakimi tetapi justru mencari tahu apa yang melatarbelakangi pertanyaan tersebut, untuk kemudian dapat merenungkan atau memberi suatu pemecahan, yang kadang hanya butuh dimengerti saja. Saya pribadi, pernah terbersit dalam benak saya pertanyaan semacam itu, dan itu bukan karena saya menjadi tidak percaya Dia yang Maha Esa itu hanya omong kosong, tetapi itu semacam puncak dari upaya belajar dan berpikir dalam berproses dan menghadapi sesuatu yang dihadapi. Dan pada akhirnya, selalu pada-Nya berpulang, bahwa menjadi paham itu pun memerlukan proses...

Tidak jarang, pertanyaan itu sebenarnya suatu satire, kepada kalangan mapan yang relijius, namun menganggap dirinya mutlak kudus namun abai pada elan vital Al-Qur-an.

Nah, kalau Tuan ada nggak sih?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire