Rabu, 10 Juni 2015

Terjemahan Bebas Bersajak Al-Qur’an, Perlukah?



SETIAP orang Indonesia di mana pun berada, minimalnya pasti menguasai atau mengerti dua bahasa, pertama adalah bahasa persatuan bahasa Indonesia dan kedua bahasa ibunya, atau bahasa daerah. Pun saya, selain bahasa Indonesia, jua bahasa Sunda—walaupun jujur saja kurang menguasainya. Dan, kala saya mencoba membaca suatu teks dalam bahasa daerah, entah bagaimana saya merasakan suatu keindahan bunyi, sekalipun saya tidak mengerti arti dari tiap-tiap kata itu, apalagi jika itu adalah naskah kreatif bukan suatu hasil mengalihbahasakan.

Lalu apa hubungannya dengan tajuk? Ini tidak sama sekali sebagai bagian dari mendukung adanya langgam kedaerahan, tetapi lebih kepada upaya pelestarian bahasa daerah yang ada di Indonesia. Saya pribadi memiliki Al-Qur’an terjemah bahasa Sunda yang disusun oleh Kyai Haji Qamaruddin Shaleh, H.A.A. Dahlan, dan Yus Rusamsi, terbitan CV Diponegoro tahun 1976. Dan pada waktu saya mendapatinya sangatlah berbahagia karena dengan membacanya saya menjadi akrab kembali dengan bahasa ibu sendiri, menambah banyak kosakata dan sebagainya. Walaupun dalam kitab tersebut tidak dibentuk dalam rupa sajak, namun tetap saja keindahan bunyinya saya rasakan.

Terkait terjehaman bebas bersajak, rupanya selain HB. Jassin yang pernah menulis terjemah Al-Quran bebas bersajak, saya menemukan di Aceh ada pula upaya itu, Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Aceh dalam rupa “sajak”, yang disusun oleh Tgk. H. Mahjiddin Jusuf. Berikut ini salah satu contoh terjemahan dari Tgk. H. Mahdjiddin yang saya peroleh dalam Imran T. Abdullah (2009),
Al Fatihah (Peuneuhah)

Ayat pertama
Ngon Nama Allah lon peuphon surat
Tuhan Hadhirat nyang Maha Murah
Tuhanku sidroe geumaseh that-that
Donya akhirat rahmat Neulimpah

Ayat kedua
Sigala pujoe bandum lat batat
Bandum nyan meuhat milek Potallah
Nyang peujeut alam timu ngon barat
Bandum lat batat peuneujeuet Allah

Ayat ketiga dan keempat
Tuhanku Sidroe geumaseh that-that
Donya akhirat rahmat Neulimpah
Droeneuh nyan raja uroe akhirat
Amai dum meuhat sinan Neubalah

Ayat kelima dan keenam
Keu Droeneuh hai Po kamoe ibadat
Tulong meularat Droeneuh nyang peuglah
Neutunyok kamoe wahe Hadharat
Bak jalan teupat beu roh meulangkah

Ayat ketujuh
Bak jalan ureueng nyang Neubri nikmat
Jalan seulamat bek jalan salah
Bek roh bak jalan ureueng nyang sisat
Ureueng nyang batat muruka Allah

Bagaimana? Indah bukan? Barangkali ini relatif, tetapi bagi saya ini indah. Sekalipun saya tidak menguasai bahasa Aceh, tetapi dapat menerka karena ini adalah alih bahasa dari teks yang sudah biasa saya akrabi, namun lepas dari itu, ini adalah suatu upaya melestarikan bahasa daerah termasuk melestarikan kebiasaan menulis bersajak yang jelas tidak mudah karena harus punya wawasan akan kosakata dan diksi yang berima. Ah, teringatlah kita ada Hamzah Fansuri, ataupun Amir Hamzah.
Nah, biar lebih afdal saya pun akan sajikan terjemah versi bahasa Sunda bagian Al Fatihah, tetapi memang yang saya miliki ini tidak disusun dalam pola sajak terjemahnya. Berikut ini terjemahannya:

Al Fatihah (Bubuka)

1. Kalayan asma-Na Allah, Nu Maha Murah, Nu Maha Asih
2. Sadaya puji kagungan Allah, Pangeran nu murbeng alam sadaya
3. Nu Maha Murah, Nu Maha Asih
4. Nu kagungan dinten wawales
5. Mung ka Gusti abdi sadaya ibadah, sareng mung ka Gusti abdi sadaya neda pitulung
6. Mugi Gusti maparin pituduh ka abdi sadaya kana jalan anu lempeng
7. (Nyaeta) jalan jalmi-jalmi anu parantos dipaparin ni’mat ku Gusti, sanes jalan jalmi-jalmi anu kenging bebendon ti Gusti, sareng sanes jalan jalmi-jalmi anu salasar


Alhamdulillah, tentu saja, masih banyak bahasa daerah lainnya yang dapat dijadikan sarana penerjemahan Al-Qur’an, kalau secara sajak dianggap riskan maka bisa secara biasa, misalnya yang pada qur’an terjemah sunda tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire