Minggu, 14 Juni 2015

Tafakur dengan Menulis

APAKAH yang biasanya dilakukan oleh seorang penulis? Tidak lain pasti menulis. Namun, yang lebih dari sekadar jawaban umum itu ialah kegiatan menafahus segala hal, baik yang kudus ataupun yang tak selalu berjalan mulus.

Tafahus jelas banyak dan hampir dilakukan oleh banyak penulis, dan tujuannya selain mencari jawab bagi dirinya sendiri pun sebagai ajang dialog ataupun diskusi bagi pembacanya, agar mencapai suatu khazanah yang lebih melimpah.

Misalnya, dengan apa yang diupayakan oleh Umar Khayyam dalam Rubai-nya adalah sebagai bentuk tafahusnya dalam rangka berfilsafat maupun bertasawuf mencapai suatu tingkatan perjalanan yang lebih jauh, dan lebih mendekatkan pada sesuatu yang seringkali menjadi bahan pemikiran, dan tak jarang malah membikin pusing. Dengan menulis, terurailah benang kusut yang membelit suatu hal yang sebenarnya mengandung benang merah di kehidupan ini.

Jadi penulis adalah peneliti? Bisa dikatakan begitu, dan tentu seorang penulis bukanlah seorang pengarang (dalam artian seorang yang asal tulis, bahkan asal copypaste!). Adapun menjadi seorang peneliti ataupun ilmuwan itu rupanya memang kehendak Tuhan, dalam artian kita disuruh memang memikirkan segala hal termasuk bergantinya siang dan malam, yang makna itu terkait dengan hukum alam, atau ilmu alam. Pun terjadi dengan hal pergantian perabadan yang silih berganti, ada hikmah dalam setiap sejarah. Namun begitu, tentu saja, tidak setiap peneliti adalah penulis, namun seorang penulis di waktu yang sama pastilah seorang yang meneliti apa yang hendak diungkapkannya terkait gagasan yang mengusik alam pikirnya.

Umar Khayyam memanglah bisa dijadikan contoh bahwa karyanya berupa rubai itu adalah suatu bentuk tafakur dengan menulis, dan sampai sekarang kita bisa merasakan hasilnya tersebut. Walaupun kini banyak yang mengira bahwa Umar Khayyam hanya seorang sastarawan atau penyair. Padahal, dirinya seorang matematikawan pun antronom. Ia tetap mencintai sastra, dan hal itu kadang lebih dekat kepada pemaksimalan proses tafakur kita.

Tidaklah berlebih kalau Pramoedya Ananta Toer sampai menyebut bahwa seseorang yang tidak mencintai sastra sekalipun seorang yang pandai dalam ilmu pengetahuan dan status kesarjanaannya tinggi, ia tetap hanya "hewan yang pandai".

Semoga saja, upaya kita tafakur dengan menulis dapat menghasilkan buah yang matang, sehingga menyegarkan dan maksimal kandungan gizinya. 

Janganlah tafakur sampai mendengkur
Urun pikiran dalam bentuk tulisan
Tafakur sepanjang masa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire