Jumat, 26 Juni 2015

Seperti Tidak Ada yang Lain Saja

Ketika seorang tua hendak mencalonkan dirinya menjadi presiden, ada beberapa kalangan menganjuran agar orang tua tersebut sebaiknya menjadi guru bangsa saja. Begitulah, menjadi "imam" memang tidaklah mudah, dan tidak sekadar lebih tahu saja, namun juga secara fisik haruslah prima. Nah, lagi-lagi, kali jumat ini saya berkesempatan untuk salat jumat di luar kampung sendiri, dan apa yang saya dapati? Seperti tidak ada yang lain saja!

Lebih spesifik itu seperti tidak ada pemuda saja. Duh! Begitulah, sepertinya banyak masjid di negeri ini yang seperti itu. Bukannya saya meremahkan pengetahuan kalangan tua, tetapi yang saya lihat jadinya malah rasa kasihan karena seharusnya tinggallah menjadi guru bangsa yang menjadi pendorong kalangan muda untuk menjadi imam. Ini apa yang terjadi? Jangan tanya kalau masjid seperti punya sendiri atau punya yang pemberi wakaf. Aduhai, semakin feodal saja ini permasjidan di negeri ini... Belum lagi materi jumatnya, sangat sedikit yang berwawasan progresif... semuanya tampak begitu-begitu saja... Tidak berkembang... persis seperti pengajian kaum ibu di kampung-kampung dari tahun ke tahun materinya itu lagi... taati suami masuk surga dan jangan menolak bila diajak oleh suami untuk bersenggama dan seterusnya. Seperti tidak ada materi lain saja!

Fyuuh, benar-benar ujian salat jumat itu. Tetapi tetap bersyukur ya masih mau salat jumat?! Apa mau dikata, semoga ke depan ada perubahan. Dan semoga yang pada umur panjang pun diberikan kesehatan dan kekuataan untuk menjadi imam...

Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire