Minggu, 21 Juni 2015

Peristirahatan Terakhir

Raden Saleh Syarif Bustaman
Di sebuah lorong, tepi Jalan Pahlawan, Bondongan, Kota Bogor, ada pusara salah satu anak bangsa, maestro seni rupa Indonesia, siapa lagi kalau bukan Raden Saleh Syarif Bustaman. Seorang pelukis pribumi yang tersohor sampai ke negeri Eropa. Lukisannya yang terkenal tentang penangkapan Pangeran Diponegoro (atau Dipanegara?)

Sejujurnya, saya sendiri baru tahu belum lama ini bahwa Raden Saleh dikebumikan di Kota Hujan, tanah kelahiran saya. Dan itu saya dapati informasinya dari Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia edisi ke-12. Inilah salah satu rahasia kehidupan, di mana kita tidak pernah tahu pasti di mana akan berakhir, sama halnya kita tidak sempat untuk memilih di mana kita waktu itu bermula ada di dunia ini.

Terbaya adalah tempat kelahiran Raden Saleh, adanya di Semarang. Beliau lahir pada tahun 1807. Lalu laju hidup membawanya mengembara ke Eropa, sampai pada masanya kembali ke tanah air dan menetap di Batavia, sekarang Rumah Sakit Cikini, Jakarta Pusat.

Dan sebagaimana laiknya manusia pada umumnya, batas hidup pun tiba, sampai kemudian beliau diistirahatkan di kawasan Bogor Kota. Dan masa berlangsung sampai kini, sebagian dari kita mengupayakan agar beliau masuk ke daftar pahlawan nasional, semoga tidak berakhir menjadi nama jalan belaka. Bahwa seseorang mendapat gelar pahlawan adalah untuk diteladani tidak sekadar diperingati apalagi hanya menjadi nama-nama jalan yang semakin hari penuh kemacetan.

Saya setuju-setuju saja atas usulan tersebut, tetapi kali ini saya malah menerungi setelah membaca kisah perjalanan dari Raden Saleh. Kita sepertinya tidak akan pernah tahu akan beristirahat di mana pada akhirnya, tetapi hidup memberikan satu kesempatan agar kita mengisi hari-hari yang diberikan oleh Tuhan, dengan berkarya, tidak hanya sekadar "bekerja".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire