Senin, 22 Juni 2015

Nobel Perdamaian Bukan Jaminan

Alfred Nobel adalah seorang industrialis, yang namanya dijadikan penghargaan bergengsi atas permintaannya sendiri. Ya, penghargaan nobel. Selain bidang kimia, fisika, medis, dan sastra. Perdamaian menjadi "bidang" tersendiri dalam ajang tersebut.

Dimulai sejak tahun 1901, di mana ada dua orang yang diberikan penghargaan nobel perdamaian yakni Jean Henri Dunant dari Swiss dan Frédéric Passy dari Perancis. Sampai pada tahun 2014, yakni Kailash Satyarthi (India) dan Malala Yousafzai (Pakistan). Sedangkan untuk tahun 2015 akan diumumkan pada bulan November nanti. 

Tentu saja, perdamaian adalah harapan segenap bangsa di dunia ini, entah itu secara luas ataupun secara sempit. Namun begitu, sepertinya nobel perdamaian bukan jaminan bahwa situasi akan sertamerta menjadi damai. Bahkan, apa yang terjadi di Israel dan Myanmar misalnya, yang warganya ada yang memperoleh nobel perdamaian, ternyata di kedua negara tersebut sampai detik ini masih penuh polemik yang sama sekali tidak menampakkan suatu kedamaian. Maka tidak salah ketika ada yang bertanya untuk apa seseorang itu mendapatkan nobel perdamaian?

Saya kira, mewujudkan situasi yang damai adalah tugas segenap manusia di mana pun berapa, tentu butuh pelopor tetapi bukan berarti pelopor tidak akan berbuat kotor karena suatu penghargaan, manusia itu sulit ditebak bahkan yang tadinya putih bisa jadi hitam ataupun sebaliknya. Tinggallah, haruskah kita menunggu agar ada pelopor dari Indonesia yang mendapatkan nobel perdamaian barulah negeri ini akan damai? Tentu tidak! Konstitusi kita mengajar bahwa segenap bangsa adalah penunjang dan pengusung perdamaian dunia!

Walau begitu, penghargaan tersebut biarlah terus belangsung, tetapi tidak lantas kita menjadi manut saja, sebab setiap orang bisa dan dapat dikritik, dan penghargaan bukanlah suatu jaminan atas suatu tindakan di masa depan. Semoga saja, para penerima nobel perdamaian yang masih hidup dan akan memperoleh ke depannya, benar-benar berupaya mewujudkan suatu perdamaian dunia.

Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire