Sabtu, 27 Juni 2015

Motivator Paling Canggih

BELAKANGAN ini, tampak oleh kita khususnya yang memiliki akun sosial facebook, bahwa banyak motivator bisnis maupun berkehidupan islamis (yang rata-rata memang tergolong selebritis) membuat postingan motivatif tetapi sarat intervensi, misalnya yang mengetik "amin" akan bla bla bla, yang nge-share akan bla bla bla, dan yang tidak akan sebaliknya? Ada apa dengan para motivator itu? Tengah putus asakah? Atau kata-kata mutiara tiada lagi menggerakkan kecuali ada aroma agamis walaupun sekadar ucapan "amin" dan kebiasaan berbagi (lebih tepatnya nge-share)?

Saya tidak tahu pasti apa alasannya sampai harus sebegitunya. Tetapi menarik juga saya mengutip salah satu komentar rekan di akun facebook saya yang menanggapi permasalahan tersebut. Katanya, "Namanya juga zaman mesin." Lantas saya balas, "Bujug kagak ada hatinye dong kalau mesin?" dan rekan saya yang bernama Siti Khodijah Nasution pun menanggapi dengan sangat cerdasnya:

"Pan memang. Moso kalo percaya ada hati ngapain mahal-mahal bayar hanya untuk dimotivasi? Tanya kenapa? Bukankah motivator paling canggih ya diri sendiri, hanya sayangnya bekerjakah diri sebagai motivator ulung buat diri sendiri?"

GLEK. Apa yang diungkapkan olehnya itu sangat menampar. Dahulu saya pun termasuk ke dalam kalangan yang rela hati mengeluarkan kocek untuk mengikuti seminar semacam itu. Dan ya begitulah, pada akhirnya semua kembali kepada kitanya, dan benar bahwa MOTIVATOR PALING CANGGIH ADALAH KITA SENDIRI.

TETAPI, bukankah setiap masalah orang itu kadarnya berbeda dan kita butuh orang lain selain kita dalam hidup ini? Tentu saja, kita tidak dapat hidup sendiri, problemnya memang, adakah kita sebagai makhluk sosial yang sekaligus individual ini, apakah sudah memotivasi diri sendiri agar dapat memberi teladan agar orang lain termotivasi? Kita pasti sepakat bahwa peduli artinya siap berbagi, termasuk dalam hal motivasi. Apa yang dibagikan itu, seharusnya selalu bersifat free, apalagi ini terkait motivasi, terlebih kalau terkait ilmu pengetahuan. Namun memang, tidak ada makan siang gratis sepertinya.

Maka dari itu, kita harus mulai percaya diri, dan yakin akan kekuatan personal kita masing-masing, bahwa keputusasaan harus kita lawan, dan kita dapat bangkit kalau kita sendirinya mau. Dan sekarang, saya semakin haqul yakin, bahwa kita pun harus memotivasi para motivator itu, bahwa mereka adalah motivator paling canggih bagi mereka sendiri!

Sudahkah saudara saudari memotivasi diri masing-masing? Kalau belum, jangan hubungi saya. Bukalah hati, bukalah pikiran, bacalah buku. Terakhir, jika memang saudara saudari sudah terlanjur jatuh hati dengan pemotivasi tertentu belilah bukunya saja, tidak terlalu penting mengikuti seminarnya, sekalipun dalam buku itu ada voucher sekian juta untuk ikut seminarnya. Tidak bisakah voucher itu digunakan oleh para motivator untuk modal acara seminar di lembaga-lembaga sosial?

Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire