Sabtu, 20 Juni 2015

Bonus Langsung (Hilang), Hati-hati Beli Perdana Paket Data

Sebelumnya saya mohon maaf kepada saudara saudari kalau-kalau postingan saya kala ini nadanya sangat penuh rasa kecewa. Singkat cerita, suatu malam kala saya pulang dari suatu perjalanan saya berhenti di terminal laladon, dan karena kebetulan perut lagi lapar saya pun membeli semangkuk bubur ayam. Lepas itu, saya mendatangi satu penjual kartu perdana, dan setelah tanya-tanya saya pun beli dua kartu perdana paket data yang embel-embelnya bonus langsung sekian GB. Tanpa upaya mengaktifkan terlebih dahulu saya langsung pulang. 

Sesampainya di rumah saya mencoba satu kartu yang saya gunakan untuk keperluan akses data via laptop, dan berhasil alias sesuai dengan apa yang tertera dalam bungkus kartu perdana paket data tersebut. Selang beberapa waktu karena paketnya habis saya pun mencoba kartu yang satunya itu. Tertulis bahwa di kedua pembungkusnya itu, kalau masa berlaku atau waktu kadaluarsanya itu sampai bulan september tahun ini, artinya seharusnya masih bisa digunakan. Dan saya pun mencoba mengaktifkan dengan terlebih dahulu daftar seperti biasa ke 4444. Dan kemudian mengikuti petunjuk pengecekan bonus langsung. Oh apa daya, ternyata yang kali ini malah nihil. Bonusnya tidak ada. Dan saya disuruh daftar seperti biasa, yang berarti harus bayar lagi. Kesal. (Eh, kamu kan lagi puasa?

Saya tahu, ini mungkin bagian dari ketentuan-Nya yang sudah berlaku, tetapi tentu saja bahwa hal seperti ini benar-benar sangat mencederai. Jangankan sekian puluh ribu, kurma satu butir saja, di sana akan menjadi suatu perkara yang luar biasa. Sekalipun kita dapat mengikhlaskannya. Ya, ini adalah suatu ujian, terlebih di bulan Ramadan. Semoga saja, ke depan tidak teralami lagi, dan sepertinya memang harus minta diaktifkan langsung, atau mungkin tidak harus beli lebih dari satu, kalau sudah habis baru beli lagi. Adapun pelajaran yang dapat diambil, kita memang harus waspada, teliti, termasuk dalam hal membeli paket data. Ini agar para penjual pun tidak terperdaya oleh kegiatan yang kurang adil tersebut. 

Untung saja, masih ada wi-fi gratis di beberapa ruang publik yang saya temui, sehingga masih dapat menulis. Sekalipun kali ini, terus terang, seperti tengah dipantik. Entah bagaimana, di saat Ramadan, kita sepertinya memang mudah tersulut. Ah, mungkin di situlah ujiannya. Bukan begitu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire