Jumat, 12 Juni 2015

Bertali Darah

"MENAGAPA manusia tega saling bantai?"ini merupakan pertanyaan yang tidak mudah untuk diketahui jawabannya secara pasti, selain karena faktor ideologi dan ajaran banyak lagi jawaban lainnya yang tentu saja kadang tetap menyisakan suatu tanya mengapa sampai tega seperti itu? Ini pertanyaan makin menjadi mengherankan mana kala itu terjadi pada suatu penindasan, pun pada suatu eksekusi atas suatu putusan peradilan tertentu.

Untuk yang terakhir itu, kadang kita bersikap toleran dalam artian itu adalah risiko atas suatu tindakan "tidak benar" yang dilakukan oleh seseorang dan diputuskan oleh hakim dalam suatu persidangan. Jadi, hukum positif di mana pun pada akhirnya menyisakan ruang berupa hukuman, yang jika tanpa embel-embel hukum sama saja dengan "membantai". Mungkin karena maut adalah perkara Ilahiah yang rumit, akhirnya proses adanya pun terkadang pelik.

Baiklah, barangkali kita bisa memaklumi kalau itu adalah akibat dari hukum positif. Lalu bagaimana dengan penindasan, perbudakkan, dan pembantaian lainnya yang lebih banyak melanggar hukumnya meskipun dalih salah satu ataupun keduanya yang berhadapan itu adalah memperjuangkan haknya. Ah, dan kita pun lupa kalau kita bertali darah!

Ataukah sifat dasar kita memang seperti itu, yakni pemangsa sesamanya? Hal itu kadang semakin menjadi dan tampak manakala di bioskop ada film yang isinya saling bantai, "kita" begitu asyik menikmatinya dan berujar filmnya bagus, dan lupa kalau itu adalah suatu penampakkan dari terceraiberainya pertalian darah akibat penumpahan darah.

Saya kadang sedih sehabis nonton film demikin itu, mengapa dan mengapa, terus pertanyaan mengapa bermunculan di benak saya. Mengherankan memang. Semoga saja, kita tidak termasuk ke bagian yang justru turut menumpahkan darah, sebisanya tidak, semoga selalu ada jalan lain untuk kemaslahatan tanpa harus ada korban jiwa.

Sebagai penutup dan penegas bahwa kita bertali darah, berikut ini ada kisah menarik dari Anthony de Mello dalam Talking Flight: A Book of Story Meditations (1990):

Kapan malam telah berakhir
dan hari baru telah dimulai?

Ketika Anda menatap wajah setiap laki-laki dan mengenalinya sebagai saudaramu
Ketika Anda menatap wajah setiap perempuan dan mengenalinya sebagai saudarimu
Kalau Anda tidak dapat melakukan hal ini, entah hari menunjukkan pukul berapa menurut perhitungan matahari, hari masih tetaplah malam.

2 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire