Selasa, 23 Juni 2015

Berbuka dengan Gembira: Awas Alpa!

Tibanya waktu berbuka bagi seorang yang tengah berpuasa adalah suatu kegembiraan, kata Muhammad Rasulullah. Sebagaimana bergembiranya kita kelak saat berjumpa dengan-Nya, Insya Allah. Tetapi, kegembiraan seringkali mengalpakan kita, sehingga kita terjerumus oleh hawa nafsu yang tidak terkontrol dengan baik, padahal puasa itu seharusnya bukan sekadar perkara menahan haus dahaga agar terhapus dosa, tetapi yang terpenting ialah agar jiwa ataupun hati dan syahwat kita terlatih untuk dapat lebih peka lagi, dan tidak malah menjadi "budak".

Nah, di saat berbuka, yakni waktu bolehnya kita makan dan minum kembali, seharusnya tidak terus nambah dugi ka wareg! alias nambah terus sampai kenyang. Justru seharusnya kita bisa lebih bisa memahami pepatah lawas yang menyatakan berhentilah makan sebelum kenyang. Di mana hal itu pun diwasiatkan oleh guru bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto kepada anaknya, yakni lereno mangan sa'durunge wareg!

Rasanya, wasiat tersebut sangat relevan dengan situasi Ramadan dan zaman kita. Dan hal itu memang tidaklah mudah, karena umumnya kita ingin makan segala kalau sudah waktu azan magrib tiba. Sampai akhirnya benar-benar kenyang. Sedangkan kalimat bijak tersebut menyuruh kita agar jangan sampai kekenyangan. Hal itu baik karena bisa melatih hati agar terus peka bahwa setidaknya kita benar-benar bisa merasai derita kaum miskin papa. Lagi pula rasa kenyang hanya bikin ngantuk dan membuat malas. Eits jangan sekali-kali mau bilang kalau tidur di siang Ramadan berpahala, sebab hidup bukan untuk tidur, bukan?

Semoga saja kita bisa benar-benar melazimkan nasihat tersebut di mana kita akan berhenti sebelum rasa kenyang tiba. Insya Allah.

Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire