Sabtu, 13 Juni 2015

Baju Koko dan Ketakwaan

Seseorang mengatakan bahwa dirinya merasa tidak tenang karena belum kebeli baju koko padahal sebentar lagi tiba bulan Ramadan dan lebaran. Sontak saya pun terkejut, sebegitu pentingkah kepemilikan pakaian berupa baju koko dalam rangka mengisi dan menyambut ramadan? Sangat miris ketika saya mendengarnya, tetapi apa mau dibuat, saya tentu tidak bisa juga melarang-larang atau menyuruhnya agar membeli buku saja.

Dari hal itu, saya menyadari bahwa segala benda atribut yang dapat melekat pada diri kita di satu sisi bisa memberikan ketenangan bila termiliki dan di sisi lain akan melahirkan suatu kesakitan tersendiri kalau sampai tak tergenapi. Semakin sialnya karena kadang hal itu tanpa sadar dan pengaruh kuat dari iklan para kapitalis yang kemudian begitu masif menggiring kita untuk terjerembab pada bahaya laten fashion. Dan tidak lama berselang, seseorang itu bilang bahwa ia sudah beli dan merasa tenang.

Ya Tuhan!

Itukah gerangan ketenangan?

Sedangkan baju koko itu sendiri bukanlah sesuatu yang murni dari khazanah Islam. Tetapi sekarang, memang menjadi icon keislaman, bahkan dikatakan sebagai penanda ketakwaan seseorang. Padahal sebaik-baik pakaian adalah takwa, bukan baju koko. Saya jadi teringat akan pertanyaan Rosid, seorang tokoh utama dalam novel karya Ben Sohib berjudul The Da Peci Code, katanya, "Sejak kapan baju koko masuk Islam?"

Iya, sejak kapan? Apakah Anda tahu?

Kalau melihat dari banyak pendapat yang menyuarakan soal asal usul baju tersebut, semuanya bermuara pada hasil modifikasi umat Islam pada masanya terhadap suatu baju khas yang dipakai oleh orang Cina, yang mana kini warga keturuna Cina sendiri sudah meniggalkan baju model tersebut, dan kemudian diabadikan oleh kalangan muslim di nusantara. Sialnya, seolah-olah baju koko yang merupakan hasil ejaan dari istilah engkoh-engkoh, yang merupakan sebutan umum bagi laki-laki Cina menjadi begitu Islami. 

Itulah, dampak dari suatu budaya yang bertemu. Tetapi kadang kita sebagai manusia seringkali lupa, dan dasarnya memang pelupa. Semoga saja kita tetap lebih mengutamakan pakaian takwa, dan bukan malah sekadar pakaian Islami untuk menyambut hari yang fitri... agar beroleh puja dan puji...!


Irilah pada pakaian yang menawan
Perawan bagi surga yang merindukannya
Takwa, penutup aurat yang sebenarnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire