Kamis, 11 Juni 2015

Apa yang Didapat Selain Citra dari Kamera?

buat gie...

Yogyakarta, 27 Juli 1969, kaupernah menulis tentang kenangan di pantai Parangtritis, "Soe, apa yang sedang kaupikirkan?", kini pertanyaan semacam itu semakin sering menjumpaiku dan banyak orang Indonesia lainnya, dan itu ulahnya Zack. Tetapi kita di sini masih saja dibuat pusing dengan pertanyaan tersebut, dan belum dapat memperoleh jawaban yang memuaskan, sampai setiap hari, seolah-olah terus diajak bermain-main dengan pertanyaan, "Apa yang sedang Anda pikirkan?"

Kalau kaumasih ada, mungkin akan sangat menarik mengetahui apa saja yang kemudian kaupikirkan. Tetapi bukan itu inti yang hendak kusampaikan kali ini, Gie. Kali ini aku ingin sedikit menyoroti tentang fenomena orang Indonesia di puncak gunung. Sudah menjadi rahasia umum kalau kaumenyukai yang namanya naik gunung, dan dari sana acapkali kaumemikirkan banyak hal, termasuk kebesaran manusia ataupun tentang bagaimana seharusnya kaumengisi hidup. Kini, banyak remaja, bahkan wong tua pun tidak sedikit yang menyukai aktivitas naik gunung.

Di satu sisi aku gembira karena dengan begitu semakin banyak yang menghargai alam, dan back to nature. Di sisi lain, seolah-olah kegiatan naik gunung itu hanya untuk ajang pengabadian eksistensi diri pribadi, kesenangan, dan pelbagai bentuk pelarian. Dan ujung-ujungnya adalah hanya citra dari kamera.

Sekalipun selalu dalam rangka mensyukuri karunia Ilahi, tetapi setelahnya hanyalah cerita "aku pernah dan ini buktinya". Hal itu semakin mengemuka dengan banyaknya media pendukung citra lainnya. Bukankah seharusnya tidak sekadar itu, Gie?

Walaupun aku percaya bahwa dalam satu imaji bisa tersaji berjuta puisi, tetapi alangkah eloknya kalau disertai tulisan hasil pemikiran, permenungan di alam raya tersebut. Ah, siapa aku ini, Gie?

"hidup adalah soal keberanian,
menghadapi jang tanda tanja
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah, hadapilah"

Soe Hok Gie, 19 Juli 1966

Betul Gie, citra memang bukan sekadar dunia tanpa kata, jika saja kita bersedia untuk "mendalaminya". Memahami memang hal tersulit sehingga banyak penolakan maupun pelarian. Alangkah beruntung memang mati muda, kalau saja itu dalam "situasi" sepertimu, Gie. Sayangnya kini, banyak yang cari mati untuk eksistensi yang tak berarti. Sekalipun aku percaya bahwa tak ada yang benar sia-sia, namun mengapa tidak kita berbuat untuk yang (jauh) lebih bermakna.

Ah, tiba-tiba saja tanya itu muncul kembali, Gie!


"Sup, apa yang sedang kaupikirkan?"
Aku sedang memikirkan tentang pesan seorang kawan
bahwa keindahan sejati tidak dapat "diabadikan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire