Jumat, 19 Juni 2015

Aku Peduli Maka Aku Muslim

Saudara saudari sekalian mungkin bertanya-tanya, mengapa saya lebih memilih judul “Aku Peduli Maka Aku Muslim” dibandingkan dengan titel “Aku Muslim Maka Aku Peduli”, bukankah berarti dengan begitu yang tidak bersyahadat pun adalah muslim? Bisa jadi, tetapi tunggu dulu, janganlah terburu-buru begitu mengambil suatu simpulan, walaupun sejujurnya untuk menjadi sosok yang peduli atau perihal kepedulian itu memang tidaklah memandang siapa kita, dari mana kita, apa ras kita, bahkan tidak menyoal apa agama kita. Jadi, seorang Yahudi atau Ateis sekali pun bisa menjadi seorang yang peduli. Nah, untuk kita, khususnya saya (dan saudara saudari sekalian?), yang mengaku muslim, sudahkah peduli? 

Menjadi peduli memang tidak harus memeluk agama Islam, tetapi pemeluk agama Islam seharusnya peduli. Mengapa? Karena kalau kita merujuk pada sejarah Muhammad Rasulullah, beliau ternyata sosok yang peduli, bahkan sebelum “dilantik” menjadi utusan Allah, dirinya sudah menjadi pribadi yang peduli. Maka tidaklah mengherankan ketika Allah menyatakan bahwa dalam figurnya itu sudah terkandung teladan yang paripurna. 

Selain itu, Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah itu, yang dikatakan oleh-Nya merupakan kitab yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa (al-Baqarah [2]: 2) rupa-rupanya sangat menonjolkan perihal kepedulian sosial. Lantas mengapa kita tidak hirau atas hal itu? Beberapa hal yang menandakan bahwa Al-Qur’an berisikan anjuran agar kita selalu peduli, misalnya tentang gagasan agar kita mengambil jalan yang sukar lagi mendaki berupa membebaskan budak—yang kini bisa kita ibaratkan dengan “memberdayakan” atau membuka suatu peluang—dan memberi makan anak yatim serta kaum yang miskin. Mengapa hal ini Allah sebut sukar? Karena memang berlawanan dengan sifat dasar manusia yang cenderung kikir serta gampang berkeluh-kesah terkait ibadah yang berdimensikan sosial, beda sekali dengan yang vertikal macam salat, haji dan yang semisalnya, saling berlomba-lomba sampai jerit tangis jelata tak didengarnya. Padahal, sangat mudah bagi Allah untuk menjungkirbalikkan—tidak hanya hati kita—pun “rezeki” kita, baik nafkah ataupun pahala yang kita harapkan. 

Tentu saja, saya sepakat bahwa dalam hal kepedulian tidak melihat jumlah, namun keikhlasannya. Namun begitu, bentuk kepedulian yang terbaik sangat dianjurkan oleh-Nya. Dan inilah pendakian yang tinggi, keikhlasan untuk berbagi. Adapun di bulan Ramadan, suatu bulan yang mana Muhammad Rasulullah pun lebih dermawan sekian kali lipat dibandingkan bulan lainnya, adalah suatu bulan pembuktian “cinta”. Tak urung hal itu memang perkara yang tidak mudah, tetapi tidak mustahil. Bukan begitu? 

Apakah harus selalu terkait harta? Pastinya itu yang utama, namun di luar itu bisa apa saja. Ilmu sendiri adalah rezeki bagi kita yang dapat kita bagikan kepada mereka yang belum mengetahuinya. Dan menulis menjadi salah satu media untuk menjadi bagian dari penyuksesan ajakan kepedulian sosial. Adapun honor yang didapatkan adalah bonus—yang bisa menggandakan kepedulian kita dengan menyisihkan sebagiannya. Dan bagi mereka yang benar-benar yakin dengan adanya akhirat, maka memang tidak terlalu perhitungan soal untung rugi yang akan didapat. Meskipun ada seorang pemuka agama yang berkata, sekian akan dapat sekian, tentu sah-sah saja, namun itu pun tidak lepas dari “Insya Allah” hakikinya. Akhirul kata, sekalipun kita berpuasa hanya karena disuruh oleh Allah, mudah-mudahan dengan begitu kita dimudahkan-Nya untuk terus dapat berbagi dengan hamba-hamba Allah lainnya. 

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire